Sabtu, 20 Februari 2010

ASAL MULA SELAT BALI (CERITA RAKYAT BALI)


 

Dahulu ada seorang Begawan bernama Sidi Mantra. Ia adalah seorang Begawan yang berbudi pekerti luhur, dalam pengetahuan agamanya dan sangat disegani oleh masyarakat di sekitarnya. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Manik Angkeran. Barangkali karena anak tunggal dan sudah ditinggal mati oleh ibunya sejak lahir maka Manik Angkeran menjadi anak yang manja. Setelah dewasa ia menjadi pemuda berandalan, pekerjaannya sehari-hari hanyalah berjudi dan menyabung ayam. Begawan Sidi Mantra sudah menasihati berkali-kali agar menghentikan kebiasaan buruknya namun Manik Angkeran tetap saja membandel. Karena sering kalah, lama-kelamaan kekayaan Begawan Sidi Mantra semakin surut dan akhirnya jatuh miskin. Namun, Manik Angkeran terus saja bermain judi.

Suatu hari, Manik Angkeran menghadap ayahnya. Dengan nada sedih, ia mohon kepada ayahnya agar sudi membayar utang-utangnya karena ia selalu dikejar-kejar oleh orang tempatnya berutang. Karena Manik Angkeran adalah anak satu-satunya, Begawai Sidi Mantra merasa kasihan kepadanya. Ia berjanji untuk membayar utang anaknya.

Dengan kekuatan bantinnya, Begawan Sidi Mantra mendapat petunjuk bahwa di sebuah gunung bernama Gunung Agung yang terletak di ujung timur terdapat harta yang melimpah. Lalu, berangkatlah Begawan Sidi Mantra ke arah timur dengan membawa genta pemujaannya.

Setelah tiba di puncak Gunung Agung, Begawan Sidi Mantra mulai mengucapkan mantra sambil membunyikan gentanya. Tak lama kemudian, keluarlah seekor naga besar bernama Naga Besukih.

"Hai, Begawan Sidi Mantra, apa maksudmu memanggilku?" "Ketahuilah Sang Besukih, kekayaanku dihabiskan oleh anakku untuk berjudi. Sekarang utangnya menumpuk dan dikejar-kejar oleh orang tempatnya berutang. Bantulah aku agar bisa membayar utang anakku!"

"Baiklah Begawan Sidi Mantra. Tetapi nasihatilah anakmu agar berhenti berjudi. Karena menurut ajaran agama berjudi adalah pekerjaan nista."

Begawan Sidi Mantra menyanggupi melaksanakan segala nasihat Naga Besukih. Dengan menggetarkan tubuhnya" keluarlah emas dan intan dari sisik sang Naga Besukih.

"Pungutlah itu Begawan Sidi Mantra! Bayar semua utang anakmu. Ingat, jangan lagi diberikan ia berjudi!"

Setelah memungut semua emas dan intan yang diberikan Naga Besukih, pulanglah Begawan Sidi Mantra ke Jawat Timur. Semua utang anaknya dibayar, seraya menasihati agar anaknya tidak lagi berjudi. Akan tetapi, nasihat ayahnya tidak dihiraukan oleh Manik Angkeran.

Tak berapa lama, utang Manik Angkeran menumpuk kembali. Seperti biasa dengan rasa sedih ia menghadap ayahnya agar sudi membayar utang-utangnya. Meskipun Begawan Sidi Mantra agak kesal, akhirnya ia berangkat juga menghadap Naga Besukih untuk mohon bantuan. Setibanya di Gunung Agung, Begawan Sidi Mantra mengucapkan mantra sambil membunyikan gentanya. Naga Besukih pun keluar dari istananya.

"Begawan Sidi Mantra, apalagi kepentinganmu memanggil aku?"

"Aduh sang Besukih, sekali lagi aku minta tolong agar aku bisa membayar utang-untang anakku. Aku sudah tidak punya apa-apa. Utang terus menumpuk. Semua nasihatku tidak diharaukannya."

"Ternyata anakmu telah membangkang. Ia tidak punya rasa hormat kepada orang tuanya. Untuk kali ini aku akan membantumu. Tapi bantuanku ini adalah bantuan terakhir. Setelah ini aku tak akan membantumu lagi."

Setelah menggerakkan tubuhnya, keluarlah emas dan permata dari sisik Naga Besukih. Begawan Sidi Mantra mengumpulkan emas dan permata itu, lalu mohon diri.

Setiba di rumahnya segera Begawan Sidi Mantra melunasi utang piutang anaknya. Manik Angkeran merasa heran karena melihat ayahnya dengan mudah mendapatkan harta yang melimpah.

"Ayah, dari manakah Ayah mendapatkan harta sebanyak itu?"

"Sudahlah, Manik Angkeran, jangan kau tanyakan dari mana Ayah mendapatkan harta itu. Berhentilah kau berjudi, sebab berjudi adalah pekerjaan hinda. Jika sekarang kamu punya utang lagi, Ayah tidak akan membantumu. Ini adalah bantuan Ayah yang terakhir."

Tak lama kemudian, utang Manik Angkeran pun menumpuk lagi. Untuk minta bantuan kepada ayahnya ia tak berani. Oleh karena itu, ia bertekad untuk mencari sumber harta itu sendiri. Dari beberapa orang kawannya, ia mendapatkan keterangan bahwa Begawan Sidi Mantra mendapatkan harta kekayaan di sebuah gunung di sebelah timur bernama Gunung Agung. Kemudian Manik Angkeran pun berangkat ke timur setelah mencuri genta ayahnya. Setibanya di Gunung Agung, Manik Angkeran membunyikan genta ayahnya. Naga Besukih merasa terpanggil oleh bunyi genta itu. Tetapi ia merasa heran tidak mendengar mantra yang diucapkan. Sang Naga Besukih segera muncul. Dilihatlah Manik Angkeran datang membawa genta ayahnya. Menyaksikan hal ini, Naga Besukih sangat marah.

"Hai, Manik Angkeran, ada apa kamu memanggil aku dengan genta ayahmu?"

"Sang Naga Besukih, aku menghadapmu untuk mohon bantuan memberikan ahrta, agar aku bisa membayar utang-utangku. Kalau kali ini saya tidak membayar utangku, aku akan dibunuh oleh orang-orang tempatku berutang. Kasihanilah aku," kata Manik Angkeran dengan sedih.

Menyaksikan kesedihan Manik Angkeran, Naga Besukih merasa kasihan. Ia pun berjanji membantu Manik Angkeran. Setelah memberikan nasihat panjang lebar, Naga Besukih membalikkan tubuhnya untuk mengambil harta yang akan diberikan kepada Manik Angkeran. Pada saat itu, ekor Naga Besukih masih berada di permukaan tanah, sedangkan kepala dan tubuhnya masuk ke dalam bumi.

Melihat ekor Naga Besukih penuh dengan intan berlian besar-besar, timbullah maksud jahat Manik Angkeran. Ia menghunus kerisnya lalu memotong ekor Naga Besukih. Naga Besukih meronta dan membalikan tubuhnya. Akan tetapi, Manik Angkeran telah pergi. Naga Besukih mengejar Manik Angkeran, tetapi tidak dijumpai. Yang dijumpai hanyalah bekas tapak kakinya. Dengan kekuatan yang luar biasa, Naga Besukih membakas bekas tapak kaki Manik Angkeran. Karena kekuatan Naga Besukih, Manik Angkeran yang sedang berada dalam perjalanan merasakan tubuhnya panas, lalu rebah dan hangus menjadi abu. Di Jawa Timur Begawan Sidi Mantra sedang gelisah karena anaknya menghilang. Genta pemujaannya pun tidak ada di tempatnya. Sang Sidi Mantra dapat memastikan yang mengambil gentanya adalah anaknya sendiri. Ia pun dapat memastikan anaknya pergi ke Gunung Agung untuk mencari harta.

Seketika itu, berangkatlah Begawan Sidi Mantra menuju Gunung Agung. Sesampainya di sana, dilihat Naga Besukih sedang berada di luar istananya. Dengan tergesa-gesa Begawan Sidi Mantra menegur Naga Besukih.

"Hai Sang Besukih adakah anakku Manik Angkeran datang kemari?"

"Ya, ia telah datang kemari untuk minta harta guna melunasi utang-utangnya. Ketika aku membalikkan tubuhku hendak mengambilkan ahrta, ia memotong ekorku karena tergiur oleh intan berlian yang besar-besar di ekorku. Aku telah membakarnya sampai musnah, karena anakmu tak tahu membalas budi. Sekarang apa maksud kedatanganmu Begawan Sidi Mantra?"

"Maafkanlah aku sang Besukih! Anakku Cuma satu. Karena itu aku mohon kepadamu agar anakku dihidupkan kembali."

"Demi persahabatan kita aku akan memenuhi permintaanmu, tetapi aku minta agar ekorku dikembalikan seperti semula."

"Baiklah, aku pun akan memenuhi permintaanmu." Dengan mengerahkan kekuatan batin masing-masing, Manik Angkeran pun hidup kembali. Demikian pula ekor Naga Besukih utuh seperti semula.

Setelah memberi nasihat panjang lebar kepada anaknya, Begawan Sidi Mantra pulang ke Jawa Timur. Manik Angkeran tidak dibolehkan ikut serta. Ia disuruh tinggal di sekitar Gunung Agung. Karena sudah sadar akan kekeliruannya, Manik Angkeran tunduk kepada perintah orang tuanya.

Ketika Begawan Sidi Mantra tiba di sebuah tanah genting, ditorehkannya tongkatnya ke tanah. Seketika bekas torehan itu bertambah lebar dan air laut naik menggenanginya. Kemudian terjadilah sebuah selat, yang sekarang dinamai Selat Bali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar