Minggu, 15 Maret 2009

HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN

Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wukunya Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara, di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.
Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan ada di Indonesia, terutama di Jawa dan di di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kindung panji Amalat Rasma. Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti.
Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama, Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan: ngawit, Bu, Ka, Dungulan Sasia Kacatur, tanggal 15, Isaka 804. Bangun Indria Buwana Ikang Bali Rajya.
Artinya:
Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.
Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu secara meriah. Setelah Galungan itu dirayakan, tiba-tiba – entah apa dasar pertimbangannya – pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan. Selama Galunan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi pendek.
Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan yang sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar itu menyatakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek, peyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Saat melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau “bisikan religius” dari Dewi Durgha, sakti pawisik itu Dewi Durgha minta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon seperti tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu, disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor Galungan (sehari sebelum Galungan). Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Bhuta Kala) dari diri manusia dan lingkungan. Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu.

MAKNA FILOSOFIS GALUNGAN
Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia.
Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecenderungan keraksaan (asura sampad) dan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kecenderungan keraksasaan.
Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual akan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan rincian dengan mendetail. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:
Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapa.
Artinya:
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terhindar dari segala kekacauan pikiran.
Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersama dengan yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakekat Galungan adalah merayakan menang adharma.
Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sebelum Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba, artinya luar, Sugihan Jawa bermakna (bumi ini) di luar dari manusia. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari sugihan Jawa itu merupakan Pasucian Dewa Kalinggania (penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara).
Pelaksanaan uapcara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista rata tawulan (oleh karenanya mereka masing-masing). Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata Bali dalam bahasa Sansekerta berarti dalam diri. Dan itulah yang disucikan.
Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena ia dianjurkan anyekung jnana, artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.
Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga pemujaan. Dalam lontar disebutkan, “Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi”. Pada hari Anggara Wage wuku Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri kita.
Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis Wuku Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melalui dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara.
Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dan meninggalkan anugrah berupa kedirghayusan yaitu hidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan mereka dan matirta gocara. Upacara tersebut bermakna, umat menikmati waranugraha Dewata.
Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama tidak disebut dilangsungkan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malani kekotoran pikiran. Keesokan harinya, Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksanakan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari atau tengah hari pada Dewata dan Dewa Pitara “diceritakan” kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga).
Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan upacaranya.

MACAM-MACAM GALUNGAN
Meskipun Galungan itu disebut “Rerahinan Gumi” artinya semua umat wajib melaksanakan, ada pula perbedaan. Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal dengan sebutan yaitu Galungan (tanpa ada embel-embel), Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
Galungan adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan keterangan adharma. Dalam lontar Sundarigama disebutkan “Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan”. Artinya, Galungan itu dirayakan wuku Dungulan. Jadi Galungan itu, dirayakan setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Wara dan Wuku. Kala Panca Waranya Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan Wukunya Dungulan, saat bertemunya hari Raya Galungan.
Galungan Nadi, galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (Purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober.
Disebutkan dalam lontar itu, bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka. Meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi kemeriahannya. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang jatuh pada bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak. Misalnya upacara ngotonin atau upacara hari wuku, kalau bertepatan dengan purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah dan keyakinan bahwa hari purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Karena itu Galungan, yang bertepatan dengan bulan Purnama disebut Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali.
Galungan Nara Mangsa, jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Dalam Lontar Sundarigama yaitu sebagai berikut:
‘Yan Galungan nuju sasih Kapitu, Tilem Galungan, mwang sasih kesanga, rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa”.
Artinya:
Bila wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem Galungannya dan bila bertepatan dengan sasih kesembilan Galungan Nara Mangsa namanya. Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama.
Nihan bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali, poma hywa lali elingakna. Yan tekaning sasih kapitu mwang tilem ring Galungan ika, tan wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya yang mengkana. Tan mwah yan anemu sasih Kesanga, rah 9, tenggek 9, tunggal kalawan sasih Kapitu, sigug ya mengaba gering ngara Baline pabanten caru ika, nasi cacahan maoran keladi, yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yadnya manurun denira Balagadabah.
Artinya:
Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (hari buruk) bagi manusia, semoga tidak lupa, Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem, pada hari Galungan itu, tidak boleh merayakan Galungan. Demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berisi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga artinya dengan sasih kapitu. Tidak baik itu, membawa penyakit adanya. Seyogyanya orang mengadakan upacara itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalem (maksudnya bila oleh Balagadabah).
Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan “Dewa Mauneb bhuta turun” yang (tapi) Bhutakala yang hadir. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan Raksasa, pemakan daging, pada hari Galungan Nara Mangsa tidak dilangsungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak “tumpeng Galungan”. Pada Galungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru, berupa nasi cacahan.
Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. Pelaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diilustrasikan dengan yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana Bali sebagai lambang, pertarungan antara adharma melawan dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh Mayadanawa. Mayadanawa diceritakan percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama.

GALUNGAN DI INDIA
Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga. Bahkan kemungkinan besar, perayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat dari kata “Wijaya” (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata “menang”.
Hari raya Wijaya Dasami di India disebut pula “Hari Raya Dasara”. Inti perayaan Wijaya Dasani juga dilakukan Galungan dan Kuningan. Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan. Pada hari kesepuluh barulah Wijaya Dasani atau Dasara. Wijaya Dasani lebih menekan pada rasa kesemarakan untuk masyarakat luas.
Perayaan Wijaya Dasani dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Perayaan dilakukan pada bulan Waisaka (April). Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewa mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksaas yang amat sakti, maka diberi julukan Dewi Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik diyakini dewi kasih sayang dan amat sakti. Pengertian sakti di India adalah kuat, memiliki kemampuan yang sesungguhnya kesaktian yang paling tinggi nilainya. Berbeda dengan di Bali, kata sakti sering diartikan sebagai kata angker, seram, sangat menakutkan.
Perayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Karunia berupa kasih sayang karunia yang paling tinggi nilainya. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma.
Sedangkan upacara Wijaya Dasani pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Pada Rama Nawa Ratri pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai, keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh umat merayakan Wijaya Dasani atau kemenangan hari kesepuluh. Pada hari ini, kota menjadi ramai. Dimana-mana sebagai lambang kemenangan. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana, Kumbakarna atau Supla dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan dimana sudah ada memperagakan tokoh Rama, Sita, Laksmana dan Anoman.
Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah ada. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama, ogoh-ogoh itu masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira ria. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama, Dewi Sita mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Anak-anak panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma.
Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasani yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Kasih sayang itulah manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan adharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemeran Rama. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa pengayoman atau pelindung dharma. Jadi dapat disimpulkan dari hari raya Wijaya Dasani adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kasih sayang dan perlindungan kekuatan yang harus dicapai oleh manusia untuk memenangkan dharma. Kemenangan dharma adalah terjadi saat bahagia lahir batin.
Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. kalau kebahagiaan dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh setiap orang. Agar maka setiap Budha Kliwon Dungulan, umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdimensi ritual dan spirit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar