Minggu, 10 September 2017

UPACARA NGABEN DI BALI


Pengertian Ngaben
Ngaben secara umum didefinisikan sebagai upacara pembakaran mayat, kendatipun dari asal-usul etimologi kata kurang tepat. Disamping ada tradisi ngaben yang tidak melalui pembakaran mayat.
Ngaben sesunguhnya berasal dari kata "beya" artinya bekal, yakni berupa jenis upakara yang diperlukan dalam upacara Ngaben itu. Kata Beya yang berarti bekal, kemudian dalam bahara Indonesia menjadi biaya atau "prabeya" dalam bahasa Bali. orang yang menyelenggarakan beya dalam bahasa Bali disebut "meyanin". Kata Ngaben atau meyanin, sudah menjadi bahasa baku, untuk menyebutkan uppacara "sawa wedhana". Jadi sesungguhnya tidak perlu lagi diperdebatkan akan asal usul kata itu. Yang jelas ngaben atau meyanin adalah upaccara penyelenggaraan sawa (jenasah) bagi orang yang sudah meninggal.
Ngaben atau meyanin dalam istilah baku lainnya, yang disebut-sebut dalam lontar adalah "atiwa-tiwa". Kata atiwa inipun belum dapat dicari asal-usulnya, kemungkinan berasal dari bahasa asli Nusantara (Austronesia), mengingat upacara sejenis ini juga kita jumpai pada suku Dayak, di Kalimantan, yang mereka sebut "tiwah". Demikian juga di tanah Batak kita dengar sebutan "tibal", untuk menyebutkan upacara setelah kematian itu.
Upacara ngaben atau meyanin, atau juga atiwa-tiwa, untuk agama Hindu di Pegunungan Tengger dikenal dengan nama "entas-entas". Kata entas mengingatkan kita pada upacara pokok ngaben Bali. Yakni tirta pangentas (air suci) yang berfungsi untuk memutuskan hubungan kecintaan Sang Atma dengan badan jasmaninya dan mengantarkan atma ke alam Pitara (alam baka).
Dalam bahasa lain di Bali, yang berkonotasi halus, ngaben itu disebut Palebon, yang berasal dari lebu yang artinya prathiwi atau tanah. Palebon artinya menjadikan prathiwi (abu). Untuk menjadikan tanah itu ada dua cara yaitu dengan cara membakar dan menanam ke dalam tanah. Namun cara membakar adalah yang paling cepat.
Tempat untuk memproses menjadi tanah disebut "pemasmian" dan arealnya disebut tunon. Tunon berasal dari kata "tunu" yang berarti membakar. Sedangkan pemasmian berasal dari kata basmi yang berarti hancur. Tunon lain katanya adalah "setra" atau "sema". Setra artinya tegal. Sedangkan sema berasal dari kata smasana yang berarti Durga. Dewi Durga yang bersthana di Tunon ini.

 
Latar Belakang Diadakan Ngaben
Manusia terdiri dari dua unsur yaitu: Jasmani dan Rohani. Menurut agama Hindu manusia itu terdiri dari tiga lapis, yaitu Raga Sarira, Suksma Sarira, dan Antahkarana Sarira. Raga Sarira adalah badan kasar, badan yang dilahirkan karena nafsu (ragha) antara ibu dan bapak. Suksma Sarira adalah badan astral atau badan hallus yang terdiri dari alam pikiran, perasaan, keinginan, dan nafsu (Citta, Manah, Indriya, dan Ahamkara). Antahkarana Sarira adalah yang menyebabkan hidup atau Sanghyang Atma.
Ketika manusia itu meninggal, Suksma Sarira dengan Atma aakan pergi meninggalkan badan. Atma yang sudah begitu lama menyatu dengan Sarira, atas kungkungan Suksma Sarira, sulit sekali meninggalkan badan itu. Padahal badan sudah tidak dapat difungsikan, lantaran beberapa bagiannya sudah rusak. Hal ini merupakan penderitaan bagi Atma.
Untuk tidak terlalu lama Atma terhalang perginya, perlu badan kasarnya diupacarakan untuk mempercepat proses kembainya kepada sumbernya di alam. Demikian juga bagi Sang Atma perlu dibuatkan upacara untuk pergi ke alam pitra dan memutuskan keterikatannya dengan badan kasarnya. Proses inilah yang disebut Ngaben.
Kalau upacara Ngaben tidak dilaksanakan dalam kurun waktu yang cukup lama, badan kasarnya akan menjadi bibit penyakit, yang disebut bhuta cuwil, dan atmanya akan mendapatkan neraka.

 
Maksud dan Tujuan Ngaben
Setelah diketahui apa yang menjadi latar belakang upacara ngaben itu, maka dapatlah dirumuskan maksud dan tujuan upacara itu. Secara garis besarnya, ngaben itu dimaksudkan adalah :
  • Untuk memproses kembalinya atau mengembalikan unsur yang menjadikan badan atau ragha kepada asalnya di alam ini, dan
  • Untuk mengantarkan Atma ke alam Pitra dengan memutuskan keterikatannya dengan badan duniawi (ragha sarira).
Dalam perjalanan Atma itu perlu bekal atau "beya" yang merupakan oleh-oleh bagi saudara empatnya yang sudah menunggu dalam wujud sebagai kala, yaitu: Dorakala, Mahakala, Jogor Manik, Suratma. Dengan bekal atau beya itu diharapkan Atma dapat kembali dengan selamat.
Kemudian yang menjadi tujuan upacara ngaben adalah agar ragha sasira cepat dapat kembali kepada asalnya di alam ini dan bagi atma dengan selamat dapat pergi ke alam Pitra.
Oleh karenanya, ngaben sesungguhnya tidak bisa ditunda-tunda. Mestinya begitu meningga segera harus diaben.
Agama Hindu di India sudah menerapkan cara ini sejak dulu kala. Sang Yudhistira mengabenkan para pahlawan yang gugur di medan juang di Tegal Kurusetra, seketika hanya dengan saraa "Catur wija". Para pembesar India seperti Nyonya Indira Gandhi, dalam waktu singkat sudah diaben. Tidak ada upakara yang menjelimet, hanya pperlu "Pancaka" tempat pembakaran, kayu-kayu harum sebagai kayu apinya dan tampak mantram-mantram atau kidung yang terus menerus mengalun.
Agama Hindu di Bali juga pada prinsipnya mengikuti cara-cara ini. Cuma saja masih memberikan alternatif untuk menunggu sementara. Diberikan menunggu sementara, mungkin dimaksudkan untuk berkumpulnya para sanak keluarga, menunggu hari baik menurut sasih (bulan) dan lain-lain. tetapi jangan menunggu lewat setahun, kalau lewat bisa menjadi bhuta cuil sawa itu. Jadi sebenarnya kita di Bali hanya diberikan kesempatan tidak lewat setahun.
Sementara menunggu waktu setahun untuk diaben, sawa harus dipendhem (dikubur) di setra (kuburan). Untuk tidak menyebabkan suatu hal yang tidak diinginkan, sawa yang dipendhempun dibuatkan upacara-upacara tirtha pangentas (air suci). Dan proses pengembalian ragha sarira kepada alam akan berjalan dalan upacara maphendem ini.
Jadi tujuan upacara ngaben pada pokoknya yaitu:
  • Melepaskan Sang Atma dari ikatan duniawi.
  • Untuk mendapatkan keselamatan dan kesenangan.
  • Untuk mendapatkan sorga pagi Sang Pitra.

 
Proses Pelaksanaan Ngaben
Secara garis besarnya proses pelaksanaan upacara ngaben dapat dijelaskan sebagai berikut:
Untuk Sawa (jenasah) yang baru meninggal
  • Mabersih/Mresihin
    • Upakara yang disiapkan
      • Air bersih
      • Air kumkum
      • Kramas dan minyak rambut
      • Sigsig
      • Bablonyoh putih kuning
      • Sikapa
      • Telur ayam Bali
      • Don tuwung
      • Daun-daun: intaran, menuh
      • Kepehan waja, kepehan meka, malem.
      • Daun padma, daun terang bola
      • Monmon mirah
      • Angkeb rai putih
      • Pangulungan
      • Kain putih
      • Kwangen dengan uang kepeng 11 satu buah (ada kalanya di suatu tempat juga dijalankan kwangen pangrekan 22 buah).
      • Tirtha pembersihan
      • Papaga (Bale Padyusan)
    • Pelaksanaan memandikan sawa (jenasah):
      • Sawa digotong dari tempat meninggalnya, lalu ditaruh pada bale papaga. Pakaiannya yang terdahulu dilugar, lalu dialasi tikar dengan kain biru. Dikasih galeng bersama uang kepeng 200. Di atas sawa dipasang kain putih sebagai luluhur.
      • Pakaiannya dilugar, kemaluannya ditutup. Kalau laki ditutu dengan kain, terung bola, oleh anaknya yang perempuan. Kalau perempuan ditutup dengan daun padma oleh anaknya yang laki.
      • Sawa disiram dengan air bersih, ke sekujur tubuhnya.
      • Lalu dilaksanakan pembersihan sawa. Mula-mula mulutnya dibersihkan dengan air kekumur, lalu diberi "sigsig". Kemudian diminyaki. Setelah bersih bagian hulu, mukanya ditutup dengan prarai. Kemudian badannya dibersihkan dengan air bersih biasa. M ulai dari leher sampai dengan kakinya. Kukunya yang kotor dikerik. Setelah itu diurap dengan bablonyoh putih dilanjutkan dengan yang kuning. Sudah kedua blonyoh terpakai sawa dibersihkan kembali dengan air bersih lalu air kumkuman.
      • Setelah pembersihan lalu dilanjutkan dengan menampatkan sarana-sarana: daun intaran pada alis, pusuh menuh pada di atas hidungnya, kaca ditaruh di atas matanya, waja ditaruh di atas giginya, sikapa yang diiris-iris ditaruh di atas dadanya, bebek ditaruh di atas perutnya, malem ditaruh pada telinganya, daun terung bola ditaruh di atar kelamin pria, daun padma ditaruh di atas kelamin wanita. Kemudian disembar dengan daun terung.
      • Kakinya di itik-itik ngekapada, dengan diamustikan diisi kwangen dengan uang kepeng 11.
      • Monmon mirah dimasukkan pada mulutnya.
      • Pada masing-masing bagian tubuhnya diletakkan kwangen sebagai berikut: kwangen yang bersisi pucuk dadap ditaruh di kepala atau dahi menghadap ke bawah. Kwangen yang berisi uang kepeng 11 ditaruh di tengah-tengah susu (dada), menghadap kepala. Kwangen yang beriai uang kepeng 9 yang disertai bunga teratai ditaruh di atas hulu hati. Kwangen yang berisi kuncup bunga cempaka putih ditaruh pada tangan kanan kiri, dan dua kwangen ditaruh pada kaki kanan kiri.
      • Diberikan tirtha pembersihan dan penglukatan.
      • Setelah itu lalu digulung dengan kain putih dan tikar kalasa. Kemudian dilante dan diikat dengan tali dengan kuat.
      • Di atas penggulungan ditaruh daun telujungan, kain putih secukupnya, dan tatindih.
    • Persembahan
      • Sawa diangkat, dilempari telur ayam dari kepala menuju kakinya, anak-anak, cucu dan lain-lain lalu "masulub".
      • Sawa ditidurkan di bale. Dihaturi punjung, dan tataban satu soroh eedan.
      • Upasaksi ke surya mempersembahkan suci satu soroh dengan banten asoroh eedan, beserta lis, segau dan tepung tawar.
      • Upasaksi dihaturkan, tataban ke sawa menyusul. Keluarga yang lebih muda nyembah.
      • Setelah selesai keluarga menyuapi punjung kepada Sang mati dengan alat daun dapdap serta mempergunakan tangan kiri.
  • Pelaksanaan Pengabenan di Setra
    • Setelah dilelet dengan lante dan kain putih ditutup dengan rurub kajang, kereb sinom 7 helai dan ditaburi bunga harum serta minyak wangi kemudian saawa diusung ke setra. Yang berjalan paling muka mereka yang membawa sundih, tah mabakang-bakang, dan mereka yang menaburkan sekarura. Setelah itu baru sawa, di belakangnya para keluarga dan masyarakat desa.
    • Tiap-tiap melalui simpang empat, sawa diputar 3 kali, ini prasawya namanya, sepanjang jalan sekrura ditaburkan.
    • Setelah sampai di setra, sawa diputar lagi tiga kali ke kiri (prasawya), dan berhenti di muka pemasmian (pancaka/tempat pembakaran sawa). Anak cucuk membersihkan pemasmian itu dengan ujung rambutnya. Setelah itu diletakkan di atas pemasmian. Kajang dan Kereb sinom diambil dan dijunjung di belakang tirtha. Lante, tikar dan kain rurub bagian atas dibuka.
    • Kemudian sawa itu diperciki tirtha yakni tirtha pengelukatan, tirtha pemanah, dan tirtha pangentas lalu diikuti dengan tirtha dari saanggah pamrajan dan dalem Mrajapati.
    • Rurub kajang, kereb sinom dipasang kembali.
    • Setelah itu Sawa dibakar dengan api yang disebut: Citta Gni, yang dapat dimohon pada pendeta, atau mohon di pura Mrajapati.
    • Dalam pembakaran mayat ini harus dipergunakan kayu api yang harum seperti majegau, manengen dan lain-lain. Lante dan pengulungan dapat dibuka dan ditaruh pada kayu api di bawah sawa.
    • Setelah basmi, semua terbakar lalu dihaturi saji "geblangan". Apinya disiram dengan "toya panyeheb", disertai dengan mantram-mantram.
    • Ngasti wedhana (mengupakarakan tulang), terdiri dari:
      • Memungut galih (tulang)
        Mempergunakan sepit. Pekerjaan ini disebut "inupit" dan nyumput areng. Memungut galih yang telah disiram dengan air, mempergunakan tangan kiri, dari bawah ke atas, (Upeti) lalu diganti dengan tangan kanan atas ke bawah (sthiti), dilanjutkan dengan tangan kiri lagi dari bawah ke atas (Pralina).Galih-galih itu ditaruh pada sebuah "Senden". Setelah terkumpul disirati air kumkuman 3x, ditaburi sekarura 3x juga disertai mantra-mantra.
      • Nguyeg (menggilas) galih yang telah terkumpul pada senden setelah diisi wangi-wangian, lalu digilas (uyeg). Alas penggilasnya adalah tebu ratu, dilakukan juga dengan tangan kiri. Pekerjaan ini dilakukan pada bale Pengastrian.
      • Ngreka (mewujudkan)
        Bagian-bagian yang halus dari galih itu, diambil dengan "sidu" dan dimasukkan pada kelungah nyuh gading yang telah dikasturi. Kalungah Nyuh Gading itu lalu dikasi pakaian putih (udeng sekah) dibuatkan prarai dengan kwangen.
        Bagian galih yang kasar, direka dengan kwangen pangrekan. Di bawah disertakan lalang kalau laki-laki 54 biji, kalau perempuan 27 biji, disusuni dengan sekar sinom dan canang wangi, pakaian baru setumpuk dan tigasan putih kuning. Galih yang telah direka ini ditaruh di atas jempana (pengayutan).
      • Narpana
        Setelah selesai ngereka lalu Pendeta memujakan tarpana. Sajen Tarpana terdiri dari: nasi angkep, bubuh pirata, panjang ilang, nasin rare, plok katampil, huter-huter, dengdeng bandeng, dan kasturyan (pesucian), guru, pras, soda panganten putih kuning, daksina, lis (satu soroh eedan). Di sanggar surya dipersembahkan: suci asoroh. Dalam pelaksanaannya dilengkapi dengan: penyeneng, jerimpen, sayut pasang, jajan 4 warna yang dikukus, dan tigasan saaperadeg. Di sanggar surya dipersembahkan suci stu soroh. Upakara di pawedaan (di muka Pendeta memuja): suci, pras, daksina, periuk, kuskusan, ddan cedok pepek, lus, prayascita, dumanggala sekarura, kwangen pangrekan dan uang kepeng 66 biji. Bunga dan kwangen pebhaktian.
      • Ngirim (nganyut)
        Setelah selesai narpana yang diakhiri dengan sembah dari sanak keluarga, lalu dilanjutkan dengan upacara ngirim (nganyut). Sebelum berangkat pendeta memujakan pengiriman ini yang disertai pawisik kepada Sang Atma. Setelah selesai memberikan pawisik itu, lalu jempana sebagai pengusungan sekah dan galih yang direka diangkat, lalu mengelilingi pemasmian 3x (mapurwa daksina). Di dalam perjalanan menuju sungai atau laut, setiap menjumpai pura sekah dipamitkan dengan sembah. Perjalanan hendaknya diikuti dengan kakawin atau kidung. Setelah samapi di sungai atau laut, kain dan perhiasan lainnya diambil.
      • Mapapegat
        Upacara ini dilaksanakan di pintu masuk pekarangan rumah. Merekah yang mengantarkan ke setra, menyelenggarakan upacara mepepegat, sebagai simbol pemutusan hubungan duniawi dengan sang meninggal. Sarananya disamping banten satu soroh, adalah tali benang yang dihubungkan pada daun carang dapdap. Setelah selesai banten dihaturkan, tali benang ini dilabrak masuk hingga putus.
    Dengan demikian selesailah upacara ngaben ini.

 
Sawa yang sudah pernah Dipendhem (dikubur)
Pelaksanaannya :
Tiga hari sebelum pengabenan diadakan upaccara "Ngeplugin atau Ngulapin" (memanggil roh). Pejati dan Pengulapan dijaba pura Dalem dengan sarana bebanten (sesaji):
Untuk pejati antara lain: satu soroh bebanten dengan sesantun, dan segehan.
Untuk pengulapan terdiri dari:
  • Pengulapan
  • Pengambeyan
  • Jerimpen
  • Sayut
  • Peras dengan guling itik
  • Daksina serta segehan.
Bagi mereka yang ditanam belum mencapai satu tahun dibuatkan banten "penebasan" yang terdiri dari :
  • Suci
  • Peras
  • Daksina
  • Jinah 800 kepeng
  • Beras sepuluh kulak.
Sesajen untuk Dewa Yama dan untuk Sedahan Aweci, masing-masing: Pangkonan dengan dagingnya daging babi.
Piuning ke Prajapati, dengan bantennya: satu soroh peras penyeneng dengan sesantun.
Ketika ngulapin, jemek dan penuntungan disertakan. Dan setelah selesai ngulapin dapat dibawa ke rumah.

Menggali tulang


 

Pada hari pengabenan, di pagi hari, tulang sawa yang telah dipendhem digali. Tulang itu dibersihkan dengan air bening dengan mempergunakan ujung alang-alang. Setelah bersih dikumpulkan, lalu disiram dengan air kumkuman. Selanjutnya digulung dengan kain putih dan tikar kelasa, kemudian ditutupi lagi dengan kain putih. Selanjutnya ditaruh pada rompok kecil, dipersembahkan dahar. Gulungan tulang juga dibungkus dengan daun telunjung. Tulang lalu dijaga baik-baik.
Pembakaran Tulang
Ketika hari pengabenan, jemek dan tulangnya dipersatukan pada pemasmian. Tulangnya di bawah, jemeknya di atas. Kemudian berlaku ketentuan seperti pada ngaben yang baru meninggal. Selanjutnya Ngasti sampai Ngirim juga sama dengan ketentuan Ngaben seperti telah diuraikan di muka.

 

Ngaben bagi yang meninggal di kejauhan dan telah lama dipendhem


Pelaksanaannya:

Tiga hari sebelum pengabenan diadakan upacara ngulapin, bagi yang meninggal di kejauhan yang tidak diketahui dimana tempatnya, upacara pengulapan dapat dilakukan di perempatan jalan, dan bagi yang lama dipendhem yang tidak dapat diketahui bekasnya, pengulapan dapat dilakukan di jaba pura Dalem.

 
Upakara yang diperlukan:
Untuk pejati di Pura Dalem: suci, pras, daksina, panyeneng, tipat kelanan, sorohan tumpeng 4, sesantun dan segehan. Untuk pengulapan di jaba Pura Dalem atau di perempatan jalan: Pengambeyen, penyegjeg, ajengan, pras, sayut, jerimpen daksina, segehan.
Pada hari pengabenan, disiapkan tirtha (air suci) yang dibuat oleh Sang Wiku.
Tirtha-Tirtha tersebut adalah:
  • Tirtha panglukatan, pembersihan.
  • Tirtha pemanah dan
  • Tirtha pangentas
Membuat pengawak (badan semu) yang bahannya terdiri dari: Dyun berisi air, diikat dengan benang 12 iler, cendana 18 tugel (potong), kusa (batang ambengan) dan ditulisi Pranawa Om.
Peraga tersebut disiram dengan tirtha tadi berturut-turut tirtha pabersihan, pengelukatan, tirtha pamanah, tirtha pangentas dan tirtha dari sanggah pemerajan dan Dalem Prajapati. Setelah disirami tirtha, pengawak tersebut dibakar dengan kayu-kayu yang harum. Tempat pembakaran dapat dilakukan dengan tempat yang kecil, seperti senden. Tempat pembakarannya di hadapan sangagt Tutuwan, di setra. Setelah terbakar menjadi awu lalu dilumatkan, dihaluskan dengan penggilas seppotong tebu cemeng. Setelah lumas lalu dimasukkan pada kelungah nyuh gading yang dikasturi dan diisi aksara Om Kara. Lalu dibungkus dengan kojong sekah, lalu ditaruh pada jempana. Berikutnya adalah "narpana" dan "ngirim" upakara dan upacaranya sama dengan Narpana dan Ngirim bagi ngaben yang telah dijelaskan di depan. Demikian juga nganyut mapepegat dan lain-lain sama dengan Atiwa-tiwa yang lain.

 

 

 

 

Jumat, 08 September 2017

FUNGSI PURA MELANTING DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT HINDU BALI


Masyarakat Hindu di Bali adalah masyarakat yang sosial religius, yang selalu berhubungan erat dengan alam Tuhan (Sang Hyang Widhi Wasa), sehingga banyak dijumpai pura-pura sebagai tempat pemujaan terhadap manifestasiNya yang sesuai dengan fungsinya bagi masyarakat Hindu seperti pelinggih, penunggun karang, pura dadia, sanggah kemulan, pura khayangan tiga dan lain-lain. Pura Melanting adalah salah satu pura yang bersifat fungsional sebagai tempat dari pemujaan Bhatari Melanting. Bhatari Melanting dapat disejajarkan dengan Dewa Kwera (dewanya uang) yang di Bali lebih dikenal dengan sebuah Bhatari Rambut Sedana. Adapun yang berwujud sebagai Bhatari Melanting adalah Ida Ayu Subawa yaitu putri dari Dang Hyang Nirarta yang telah berubah wujud. Pura Melanting terletak di pojok timur laut, mengarah ke pasar dan ada juga Pura Melanting itu terletak di tengah-tengah pasar. Yang memuja dan yang bertanggung jawab terhadap Pura Melanting adalah orang-orang yang terlibat didalam kegiatan pasar, baik pedagang, maupun buruh bertanggung jawab terhadap Pura Melanting beserta piodalannya.
Pura Melanting adalah termasuk aspek agama dan kebudayaan yang sangat penting kedudukannya dalam kehidupan masyarakat untuk menyediakan Bhoga, Upa Bhoga dan Pari Bhoga, menuju masyarakat adil, makmur dan sejahtera. Pasar adalah salah satu tempat untuk beraktifitas untuk mengejar Jagathita (kebahagiaan jasmani) seperti tempat menyediakan bahan sandang, pangan dan papan dan tidak mengabaikan kepentingan rohani dengan pura Melantingnya. Dengan adanya kemajuan teknologi pasar telah banyak mengalami perubahan-perubahan baik dari sarana prasarananya namun dengan demikian juga halnya keadaan pura Melanting dari bentuk sederhana menuju bentuk yang lebih permanen. Walaupun demikian tidak merubah fungsi terhadap pura melainkan tetap mempertahankan fungsinya sebagaimana mestinya oleh masyarakat Hindu dan nilai-nilai keagamaannya sama sekali tidak luntur terbukti masih adanya kepercayaan kepada Bhatari Melanting. Hal ini pula menjadikan salah satu gaya tarik pulau Bali terhadap para wisatawan.

 
Definisi Pura Melanting
Pura Melanting adalah merupakan salah satu tempat pemujaan umat Hindu di Bali. Pura tersebut bersifat fungsional sebagai stana (pelinggih) Bhatari Melanting. Bhatari Melanting dari segi niskala sebagai kepala pimpinan "Wong Samar" yang menguasai seluruh jagat raya ini, sedangkan ditinjau dari segi rohani beliau bertugas melindungi/mengayomi para pedagang dan memberikan keselamatan warga masyarakat pada setiap Bale Banjar dan setiap pasar-pasar yang ada di Bali.

 
Arti dan Pengertian Melanting
Kata Melanting berasal dari kata mel dan anting. Kata mel berarti kebun, di samping itu kata mel berarti sifat tidak ramah, berat mulut, mel juga berarti lembab. Sedangkan kata anting berarti batu. Dari kata anting menimbulkan kata anting-anting yang artinya:
  1. Perhiasan telinga yang terbuat dari emas.
  2. Batu seperti bandul.
  3. Burung anting (nama burung).
Jadi dapat disimpulkan bahwa kata Melanting dapat dipisahkan menjadi kata "mel" dan kata "anting". Mel berarti kbun dan anting berarti bergantungan pada tali. Melanting adalah suatu tempat persembahan hasil bumi yang dipersembahkan kehadapan Ida Ayu Swabawa sebagai Bhatari Melanting (Dewa yang menguasai pasar). Pasar adalah tempat pertemuan antara penjual dengan pembeli untuk mengadakan tawar menawar (transaksi) sehingga terdapat persetujuan kedua belah pihak. Melanting adalah tempat persembahan/persembahyangan untuk menghaturkan segala hasil bumi sebagai ucapan terima kasih kehadapan Bhatari Melanting yang beristana di sana serta memohon keselamatan sehingga tidak diganggu oleh wong samar.

 
Fungsi Pura Melanting Dalam Kehidupan Masyarakat Hindu di Bali

Pengertian Pura Melanting

Pura Melanting adalah merupakan tempat para pedagang untuk memohon keselamatan, ketentraman lahir batin sehingga pada saat berdagang dapat memperoleh keuntungan sesuai dengan yang diinginkan. Pura Melanting pada umumnya didirikan di dalam setiap pasar di Bali.

Fungsi Pura Melanting Dalam Hubungannya dengan Pasar

Antara Pura Melanting dengan pasar mempunyai hubungan yang sifatnya saling tunjang menunjang sehingga terwujudnya jual beli antara para pedagang dengan pembeli baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

 

Kamis, 07 September 2017

MONUMEN NASIONAL TAMAN PUJAAN BANGSA MARGARANA



Monument Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana berlokasi di desa Marga. Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, berjarak lebih kurang 25 km dari Kota Denpasar kea rah barat laut. Didepan inilah terjadi peristiwa bersejarah "Puputan Margarana".


Di areal Monumen kita disabut oleh deretan panjang nama-nama pahlawan yang gugur 62 tahun silam ketika pasukan Ciung Wanara yang dikomandani oleh Let.Kol I Gusti Ngurah Rai yang berperang habis-habisan (puputan), ketika itu nyawa bukanlah sesuatu yang berharga bila dibandingkan dengan rasa nasionalisme mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kemudian perjalanan kami lanjutkan masuk ke dalam areal monumen, nampak monumen Pahlawan dari kejauhan, di samping timur dan barat terdapat 2 bale panjang yang cukup luas. Hamparan rumput yang menghijau dan luas di depan monumen sering di peruntukan sebagai tempat upacara Bendera. Cukup unik bentuk  arsitektur monument tersebut, dasarnya berupa segi 5 dan dimasing-masing sudut berisi gambar sila-sila dalam Pancasila, ini memberikan makna bahwa perjuangan yang dilakukan berdasarkan atas 5 nilai yang mendasari berdirinya Negara Republik Indonesia. Pada monumen juga  terdapat surat penolakan terhadap pendudukan Belanda di Bali yang masing-masing di pengggal menjadi 4 dan diletakkan di kempat sisi monumen. Nisan yang lebih besar dari nisan yang lainnya dan juga di hiasi lebih dari yang lainya adalah nisan Let. Kol I Gusti Ngurah Rai. Diantara jejeran nisan pahlawan tersebut ada juga yang berasal dari luar Bali dan bahkan ada yang dari Jepang. Lihatlah gambar di halaman berikutnya.


Taman Margarana



Ini adalah taman makam pahlawan untuk menghormati jasa pahlawan kemerdekaan yang gugur dalam perang puputan, 20 November 1946. Dalam perang sengit u yang tak berimbang itu pasukan laskar Bali yang dipimpin oleh Letkol I Gusti Ngurah Rai, semuanya gugur akibat gempuran udara yang dahsyat oleh tentara Belanda. Sebagai penghormatan, abu jenazah I Gusti Ngurah Rai beserta segenap pasukannya yang gugur di dalam pertempuran tersebut ditanam di sini.

    Di Candi Pahlawan ini kita dapat menyaksikan beberapa prasasti yang merupakan salinan surat dari I Gusti Ngurah Rai yang tak mau berkompromi apalagi tunduk pada Belanda. Karena pasukan I bawah komando Ngurah Rai tersebut bernama pasukan Ciung Wanara, taman makam pahlawan ini pun dikenal dengan nama Taman Makam Pahlawan Ciung Wanara.

 

 

 

 
Monumen ini seluas sembilan hektar, terbagi menjadi tiga bagian mengikiti konsep Tri Mandala yakni hulu, tengah dan hilir sebagai berikut.
1.   Dibagian hulu ( utara ) dengan luas areal empat hektar, merupakan komplek bangunan suci yang disebut Taman Pujaan   Bangsa, terdiri atas bangunan – bangunan sebagai berikut :
- Candi Pahlawan Margarana ; berdiri megah setinggi 17 meter, disini terpahat secara berangkai isi surat Jawaban I Gusti Ngurah Rai ( Pemimpin Dewan Pejuang Bali ) kepada Overste Termeulen ( Belanda ), yang  menggambarkan kebesaran jiwa perjuangan dan patriotisme bangsa Indonesia umumnyta dan masyarakat Bali khususnya.
- Pelataran Upacara ; diapit oleh dub alai peristirahatan ( dibagian timur dan barat )
- Patung Panca Bakti ; terletak dibagian selatan  pelataran upacara, setelah pinti gerbang masuk, menggambarkan persatuan dan kesatuan seluruh rakyat dalam perjuangan kemerdekaan.
- Taman Bahagia ; terletak disebelah utara dan Timur Laut Candi Pahlawan Margarana, yang terdiri dari 1372 nisan atau tugu pahlawan yang menunjukkan jumlah pejuang yang gugur di medan laga selama revolusi fisik di Bali, sebagai pahlawan perang kemerdekaan RI, termasuk sebuah nisan untuk pahlawan tidak dikenal.
- Gedung Sejarah ; terletak di sebalah Timur Candi Pahlawan Margarana, sebagai tempat penyimpanan benda – benda  sejarah perjuangan.
- Taman Suci ; berlokasi disebelah selatan gedung sejarah, merupakan tempat penyucian diri bagi para pengunjung yang  hendak melaksanakan perziarahan/kebaktian.
2.   Di bagian tengah atau di sebelah Selatan Taman Pujaan Bangsa dengan luas areal satu hektar, disebut Taman Seni Budaya, terdiri atas bangunan : wantilan, warung kopi dan rencana akan dibangun took souvenir.
3.  Dibagian Hilir ( Selatan ) dengan luas empat hektar, disebut Taman Karya Alam, dan disini direncanakan akan dibangun Bumi Perkemahan Remaja.

 


 


 

Rabu, 06 September 2017

TAJEN DI BALI

Dalam kehidupan masyarakat di Indonesia, perjudian sabung ayam sudah dikenal dan cukup digemari sebagian masyarakat di beberapa daerah. Di Bali perjudian sabung ayam dikenal dengan istilah Tajen, yang berasal dari kata taji yang artinya benda tajam dan telah berkembang cukup mengakar di dalam kehidupan masyarakat Bali. Pada awalnya “Tajen” merupakan bagian dari acara ritual keagamaan tabuh rah atau prang sata dalam masyarakat Hindu Bali. Yang mana tabuh rah ini mempersyaratkan adanya darah yang menetes sebagai simbol / syarat menyucikan umat manusia dari ketamakan/ keserakahan terhadap nilai-nilai materialistis dan duniawi. Tabuh rah juga bermakna sebagai upacara ritual buta yadnya yang mana darah yang menetes ke bumi disimbolkan sebagai permohonan umat manusia kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari marabahaya.
Sejalan dengan dinamika kehidupan sosial masyarakat Bali, telah terjadi pergeseran makna ritual dan bagian tabuh rah, yang mana makna tabuh rah atau prang sata telah dimanipulasi dan diterminologikan sebagai Tajen. Padahal bila dikaji, tabuh rah dan tajen merupakan suatu pengertian yang berbeda, namun pada kenyataannya tabuh rah dipakai tameng untuk menyelenggarakan tajen.

Ironisnya tajen ternyata mampu berperan sebagai medium interaksi dan komunikasi lintas strata sosial. Latar belakang status sosial menjadi cair dan kabur, masyarakat membaur dan melebur secara fisik dan emosional, semua pihak terfokus pada pertarungan kedua ayam adu. Bahkan tajen oleh masyarakat juga sudah dipandang sebagai salah satu bentuk hiburan dan permainan utnuk menghilangkan kejemuan dan kelelahan fisik setelah melakukan kegiatan berat.

Pada dekade belakangan ini posisi dan peran tajen semakin mengemuka dan seolah-olah mendapat legitimasi dari berbagai kalangan masyarakat. Beberapa oknum masyarakat beragurmentasi bahwa tajen yang digelar semata-mata ditujukan untuk kepentingan pembangunan atau pengembangan kehidupan sosial ekonomi masyarakat adat. Dari perspektif antropologi hukum fenomena sosial ini merupakan proses dekriminalisasi tajen sebagai perjudian. Meskipun ditinjau dari sudut agama khususnya agama Hindu, didalam kitab suci Wedha tidak ada satu ayatpun yang membenarkan adanya berbagai bentuk dan jenis kegiatan perjudian.

By:




DINAMIKA SENI BUDAYA PARIWISATA BALI


Dinamika Seni Pertujukan Bali dalam Konteks Pariwisata Budaya
Secara umum seni pertunjukan Bali dapat dikatagorikan menjadi tiga: wali (seni pertunjukan sakral) yang hanya dilakukan saat ritual pemujaan; bebali pertunjukan yang diperuntukan untuk upacara tetapi juga untuk pengunjung; dan balih-balihan yang sifatnya untuk hiburan belaka di tempat-tempat umum. Pengkatagorian ini ditegaskan pada tahun 1971 oleh Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (LISTIBIYA) Bali sebagai respon dari semakin merambahnya pertunjukan untuk pariwisata ke seni-seni yang sifatnya sakral. Pertemuan ini merekomendasikan agar kesenian yang sifatnya wali dan bebali tidak dikomesialkan. Bandem dan de Boer dalam bukunya Kaja and Kelod: Balinese Dance in Transition secara rinci mengklasifikasi berbagai seni pertunjukan yang ada di Bali hingga awal tahun 1980-an. Tergolong ke dalam wali misalnya: Berutuk, Sang Hyang Dedari, Rejang dan Baris Gede; bebali seperti: Gambuh, Topeng Pajegan, Wayang Wong; dan balih-balihan diantaranya: Legong, Parwa, Arja, Prembon, dan Joged.
Penulisan secara seksama tentang Seni Pertunjukan Drama dan Tari Bali pertama dipublikasikan pada tahun 1938. Ironisnya, dan tentu tidak terlalu mengejutkan, bahwa buku ini ditulis oleh orang asing bernama Walter Spies dan Beryl de Zoete. Bukankah intervensi orang asing sudah merupakan bagian dari sejarah Bali pada umumnya? Walter Spies, peranakan Rusia-Jerman, adalah nama orang asing yang sangat terkenal di Bali. Ia datang dan menetap di Bali mulai 1927 hingga jaman pendudukan Jepeng di awal tahun 1940-an; seorang pemusik, pelukis, yang mempunyai minat yang sangat mendalam pada seni pertunjukan di Bali. Peranannya dalam awal-awal perkembangan pariwisata budaya Bali sudah tidak diragukan karena dia sangat dipercaya oleh orang asing yang datang ke Bali pada waktu itu untuk memberi pengalaman budaya, khususnya seni pertunjukan di Bali. Pertunjukan seni tradisional menjadi menu rutin bagi pengunjung di Jaman itu. Pementasan dilakukan di berbagai jaba pura (bagian luar pura) di berbagai desa di daerah sekitar ubud dan juga pementasan ke Bali Hotel milik maskapai pelayaran Belanda, KPM.
Bisa dibayangkan bahwa pertunjukan drama dan tari sering tidak sepenuhnya bisa dipahami oleh para wisatawan terutama karena faktor bahasa; disamping pada umumnya jadwal tour wisatawan yang padat. Karena itu intervensi dilakukan oleh agen perjalanan wisata agar pertunjukan bisa dipersingkat ke format yang lebih bisa dimengerti dan dinikmati oleh wisatawan. Genre-genre campuran mulai bermunculan yang mengkombinasikan genre satu dengan yang lain, misalnya Cak sebagai perpaduan cerita Ramayana dengan vokal dari Sang Hyang Dedari yang dilakukan oleh Spies dan seorang penari bernama Limbak; atau tari Barong dan Kris dengan cuplikan dari Mahabarata. Pertunjukan yang biasanya berdurasi satu jam. Disamping itu juga bermunculan tari-tari lepas (tari yang berdiri sendiri, tidak merupakan bagian dari drama); dan paket pementasan yang menggabungkan berbagai tari lepas dari genre topeng, baris, legong dan lainnya. Seni pertunjukan Bali yang sifatnya sakral biasanya memiliki nilai eksotisme dan magis sehingga dicari-cari oleh wisatawan. Ada ketergiuran para penyedia jasa pariwisata pun kemudian menawarkan paket-paket tiruan seni sakral tersebut. pertunjukan barong-rangda dengan unying (tari keris) adalah salah satu contoh klasik profanisasi yang terjadi (Lihat bandem dan deBoer, 1981:145-150).
Kiranya idealisme untuktidak mengkomersialkan tari wali dan bebali tidak bisa dijalankan sepenuhnya. Sekarang pertunjukan-pertunjukan untuk pariwista sudah mulai mempertontonkan imitasi tari Sag Hyang Dedari; Sang Hyang Jaran, Calonarang, dan sebagainya. Dan yang terakhir berkembang adalah istilah pertunjukan kemasan baru sebagai gabungan aspek prossi ritual dengan pagelaran berbagai jenis pertunjukan secara simultan seperti wayang, tari cak api, joged bungbung, dan pertunjukan selama makan malam berupa legong, beberapa tari lepas dan drama tari barong. Pertunjukan seperti ini kerap dilakukan dalam paket wisata puri (keraton) berupa royal dinner seperti yang dilakukan di puri Mengwi, Kerambitan dan ditiru oleh puri-puri lain. Hotel-hotel besar ketika menyelenggarakan konvensi atau gala dinner juga kerap memakai pertunjukan kemasan baru. Tekanan pasar untuk senantiasa menawarkan sesuatu yang baru akhirnya berpengaruh pada penciptaan jenis-jenis pertunjukan baru.





Dampak Pariwisata Budaya pada Seni Pertunjukan Tradisional
Disamping permasalahan komodifikasi dan penggerusan, masalah yang sering menjadi pembicaraan adalah kurangnya penghormatan atau apresiasi para penguasaha pariwisata terhadap para seniman tradisional. Disamping pembayaran yang diberi tergolong masih rendah seni pertunjukan sering diposisikan sebagai suatu pelengkap acara, biasanya makan malam di hotel/restoran. Seniman diberi fasilitas sekedarnya dan sering tidak diperkenalkan dengan semestinya. Bagaimana apresiasi mendalam bisa terjadi ketika perhatian penonton harus terbagi antara penyantap makanan dan menonton pertunjukan? Sudah menjadi rahasia umum bahwa di tempat-tempat pertunjukan pariwisata guide atau supir yang mengantar wisatawan mendapat komisi 25-50% dari harga tiket masuk. Demikian pula para makelar kesenian (perantara antara seniman dan pemesan) mengambil persentase yang tinggi dari harga yang ditawarkan sehingga upah yang diterima oleh seniman sangat minim. Hal ini mungkin disebabkan oleh banyaknya jumlah seniman/kelompok kesenian di Bali (supply yang tinggi), ditambah dengan rendahnya pengetahuan dan kemampuan manajerial kebanyakan seniman/kelompok seniman, dan karena faktor tradisi budaya ngayah (pertunjukan sebagai sebuah persembahan dan kepuasan batin) yang masih kental di kalangan penggiat seni. Posisi tawar para seniman di hadapan pengusaha pariwisata menjadi rendah, tercermin dengan adanya persaingan dalam menurunkan harga antara kelompok satu dengan yang lain.
Memang ada segelintir hotel dan tempat tontonan parisiwata yang berusaha memposisikan seni pertunjukan tradisional sebagai suatu yang istimewa kepada tamunya. Seniman yang ditampilkan adalah seniman yang berkualitas atau seniman-seniman ternama; pementasan dilakukan tidak pada saat makan; ada usaha-usaha untuk memberi informasi yang baik (pendidikan) kepada tamu; dan mereka bersedia memberi harga yang disodorkan seinman. Seniman-seniman yang sudah yakin dengan kualitasnya biasanya berani mematok harga; mereka mempunyai posisi tawar yang tinggi. Semua ini bisa terjadi tidak lepas dari adanya keberagaman jenis wisatawan yang datang. Ada wisatawan yang puas dengan sekedar melihat pertunjukan, ada juga yang mau melihat yang terbaik.
Ada usaha-usaha Pemda Bali melalui LISTIBIYA-nya untuk melindungi seniman dari eksploitasi dan sebaliknya memberi dukungan dan bimbingan kepada mereka agar menjaga atau malah meningkatkan kualitas. LISTIBIYA mengeluarkan semacam lisensi layak pentas untuk umum/pariwisata yang bernama Pramana Patram Budaya kepada kelompok-kelompok kesenian. Pemerintah terus menghimbau agar para pelaku usaha pariwisata memberi penghargaan yang lebih baik kepada seniman, baik secara finansial maupun perlakuan. SK Gubernur No.394 dan 305 tahun 1997 misalnya membuat patokan-patokan upah bagi berbagai jenis kelompok kesenian yang ada. Seberapa jauh implementasi dari upaya ini memang masih perlu ditelusuri. Penulis masih mengamati banyak pementasan yang dilakukan di hotel-hotel/restoran yang terkesan seadanya, dan membaca di media masa tentang keluhan kurangnya penghargaan praiwisata kepada para seniman. Barangkali pementasan yang rutin bisa jadi membuat sang penari mengalami kejenuhan, disamping ada anggapan bahwa wisatawan toh tidak bisa membedakan antara pertunjukan yang berkualitas dengan yang tidak.
Dampak positif pariwisata bisa dihubungkan dengan peningkatan kuantitas jenis kesenian dan jumlah seniman, dan umumnya peningkatan penghasilan. Para seniman berharap untuk dapat kesempatan pentas di hotel karena lebih sering atau rutin ketimbang pertunjukan untuk adat/upacara. Perlu diketahui bahwa seni pertunjukan tidak pernah lepas dari ritual-ritual yang dipercaya harus dilanjutkan. Ritual-ritual melibatkan beberapa bentuk pertunjukan seperti Sang Hyang, wayang lemah, topeng pajegan, pendet, berbagai jenis tari baris sakral; dan masih dalam konteks ritual tetapi juga untuk iburan seperti wayang kulit pada malam hari, calon arang, atau gambuh. Meningkatnya daya beli masyarakat secara umum memungkinkan desa adat atau banjar untuk membeli perangkat gamelan yang biasanya juga merangsang terbentuknya kelompok drama/tari.
Seorang seniman muda ternama di Bali (I Nyoman Budiarta dari Batuan-Gianyar) yang penulis sempat wawancarai memiliki pandangan yang berbeda dengan apa yang dikhawatirkan oleh para sarjana bahwa pariwisata menggerus kualitas kesenian tradisional. Pertunjukan yang rutin memberi kesempatan lebih banyak untuk berlatih sehingga menjadikan kesenian lebih kreatif dan bervariasi. Dia tidak mempermasalahkan misalnya pertunjukan yang dilakukan saat dinner karena percaya bahwa wisatawan otomatis akan lebih memperhatikan pementasan dari makanan bila pertunjukannya berkualitas. Letak permasalahan utama ada pada si seniman – apakah dia memang seniman yang berkualitas sehingga berani mematok harga atau seniman rata-rata yang mau dihargai rendah. Ia menyarankan memang perlu adanya fasilitator yang mempertemukan penguasaha pariwisata dengan seniman untuk berdialog: bahwa mereka saling membutuhkan. Pemerintah juga bisa memfasilitasi dengan membuat batasan-batasan atau rambu-rambu. Perihal tudingan bahwa telah terjadi profanisasi pertunjukan sakral dia menyarankan agar definisi sakral itu dipertegas. Menurutnya yang membuat sebuah kesenian sakral adalah ketika dilakukan untuk ritual lengkap dengan sarana upacara, banten. Dia tidak mempersalahkan kalau ada kesenian ritual yang dikemas menjadi tontonan pariwisata sejauh tidak melibatkan banten. Dia malah berpendapat bahwa seni-seni ritual atau klasik perlu dibuatkan tiruan agar tidak punah dan kalau perlu dikembangkan.
Seorang tokoh kesenian Bali generasi tua (I Gusti Agung Ngurah Supartha dari Tabanan) melihat memang terjadi penurunan kualitas atau nilai-nilai. Ini tidak terlepas dari perkembangan jaman yang semakin modern dimana banyak hal yang menyita perhatianbaik si seniman maupun masyarakat (penonton), ditambah lagi dengan berkembangnya sindrom cepat jadi, instan, tercermin pada keinginan murid-murid (termasuk orang tuanya) agar cepat bisa menari dan dipentaskan. Tantangan untuk seniman-seniman sekarang tidak seberat yang dulu. Jarang ada guru-guru yang mengajar sekeras dan seintesif dulu. Perubahan pada dinamika penonton juga berpengaruh pada penurunan kualitas. Di era sebelum tahun 1970-an seniman tertantang untuk mencapai potensi terbaiknya karena ada penonton-penonton yang datang untuk menguji. Kedekatan jarak antara penonton dan penari karena panggung yang kecil menciptakan kondisi untuk komunikasi saling apreaiasi, komunikas rasa mecingak. Sistim panggung sekarang yang memisahkan penari dengan penonton (terlebih lagi penayangan tari melalui TV) meniadakan proses mecingak tersebut.

HARI RAYA PAGERWESI


Kata "pagerwesi" artinya pagar dari besi. Kata besi ini melambangkan suatu perlindungan yang kuat. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi agar jangan mendapat gangguan atau dirusak.
Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini adalah Sanghyang Pramesti Guru.
Sanghyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk. Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti Guru, beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia. Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun, sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur.
Hari raya Pagerwesi jatuh pada hari Budha Kliwon Wuku Sinta. Dalam kalender hari suci di Bali, hari ini adalah hari ke 5 dari serangkaian hari raya penting, yaitu
Hari ini adalah payogan Hyang Pramesti Guru, disertai para Dewa dan Pitara, demi kesejahteraan dunia dengan segala isinya dan demi sentosanya kehidupan semua makhluk.
Pada saat itu umat hendaklah ayoga semadhi, yakni menenangkan hati serta menunjukkan sembah bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi. Juga pada hari ini diadakan widhi widhana seperlunya, dihaturkan dihadapan Sanggar Kemimitan disertai sekedar korban untuk Sang Panca Maha Butha.
Pada hari ini kita menyembah dan sujud kehadapan Ida Sang Hyang Widhi, Hyang Pramesti Guru beserta Panca Dewata yang sedang melakukan yoga. Menurut pengider-ideran Panca Dewata itu ialah:
1 Sanghyang Içwara berkedudukan di Timur
2 Sanghyang Brahma berkedudukan di Selatan
3 Sanghyang Mahadewa berkedudukan di Barat
4 Sanghyang Wisnu berkedudukan di Utara
5 Sanghyang Çiwa berkedudukan di tengah
Ekam Sat Tuhan itu tunggal. Dari Panca Dewata itu kita dapatkan pengertian, betapa Hyang Widhi dengan 5 manifestasiNya dilambangkan menyelubungi dan meresap ke seluruh ciptaanNya (wyapi-wiapaka dan nirwikara). Juga dengan geraknya itulah Hyang Widhi memberikan hidup dan kehidupan kepada kita. Hakekatnya hidup yang ada pada kita masing-masing adalah bagian daripada dayaNya. Pada hari raya Pagerwesi kita sujud kepadaNya, merenung dan memohon agar hidup kita ini direstuiNya dengan kesentosaan, kemajuan dan lain-lainnya.
Widhi-widhananya ialah: suci, peras penyeneng sesayut panca-lingga, penek rerayunan dengan raka-raka, wangi-wangian, kembang, asep dupa arum, dihaturkan di Sanggah Kemulan (Kemimitan). Yang di bawah dipujakan kepada Sang Panca Maha Bhuta ialah Segehan Agung manca warna (menurut urip) dengan tetabuhan arak berem. Hendaknya Sang Panca Maha Bhuta bergirang dan suka membantu kita, memberi petunjuk jalan menuju keselamatan, sehingga mencapai Bhukti mwang Mukti.

Pelaksanaan upacara/upakara Pagerwesi sesungguhnya titik beratnya pada para pendeta atau rohaniawan pemimpin agama. Dalam lontar Sundarigama disebutkan:

Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca Maha Bhuta, sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah.

Artinya:
Sang Pendeta hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Prameswara (Pramesti Guru). Tengah malam melakukan yoga samadhi, ada labaan (persembahan) untuk Sang Panca Maha Bhuta, segehan (terbuat dari nasi) lima warna menurut uripnya dan disampaikan di halaman sanggah (tempat persembahyangan).

Hakikat pelaksanaan upacara Pegerwesi adalah lebih ditekankan pada pemujaan oleh para pendeta dengan melakukan upacara Ngarga dan Mapasang Lingga.

Tengah malam umat dianjurkan untuk melakukan meditasi (yoga dan samadhi). Banten yang paling utama bagi para Purohita adalah "Sesayut Panca Lingga" sedangkan perlengkapannya Daksina, Suci Praspenyeneng dan Banten Penek. Meskipun hakikat hari raya Pagerwesi adalah pemujaan (yoga samadhi) bagi para Pendeta (Purohita) namun umat kebanyakan pun wajib ikut merayakan sesuai dengan kemampuan. Banten yang paling inti perayaan Pegerwesi bagi umat kebanyakan adalah natab Sesayut Pagehurip, Prayascita, Dapetan. Tentunya dilengkapi Daksina, Canang dan Sodaan. Dalam hal upacara, ada dua hal banten pokok yaitu Sesayut Panca Lingga untuk upacara para pendeta dan Sesayut Pageh Urip bagi umat kebanyakan.

Makna Filosofi

Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama, Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati.

Mengadakan yoga berarti Tuhan menciptakan diri-Nya sebagai guru. Barang siapa menyucikan dirinya akan dapat mencapai kekuatan yoga dari Hyang Pramesti Guru. Kekuatan itulah yang akan dipakai memagari diri. Pagar yang paling kuat untuk melindungi diri kita adalah ilmu yang berasal dari guru sejati pula. Guru yang sejati adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat megisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.

Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan "pager besi" untuk melindungi hidup kita di dunia ini. Di samping itu Sang Hyang Pramesti Guru beryoga bersama Dewata Nawa Sanga adalah untuk "ngawerdhiaken sarwa tumitah muang sarwa tumuwuh."

Ngawerdhiaken artinya mengembangkan. Tumitah artinya yang ditakdirkan atau yang terlahirkan. Tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan.
Mengembangkan hidup dan tumbuh-tumbuhan perlulah kita berguru agar ada keseimbangan.
Dalam Bhagavadgita disebutkan ada tiga sumber kemakmuran yaitu:
Krsi yang artinya pertanian (sarwa tumuwuh).
Goraksya, artinya peternakan atau memelihara sapi sebagai induk semua hewan.

Wanijyam, artinya perdagangan. Berdagang adalah suatu pengabdian kepada produsen dan konsumen. Keuntungan yang benar, berdasarkan dharma apabila produsen dan konsumen diuntungkan. Kalau ada pihak yang dirugikan, itu berarti ada kecurangan. Keuntungan yang didapat dari kecurangan jelas tidak dikehendaki dharma.

Kehidupan tidak terpagari apabila tidak berkembangnya sarwa tumitah dan sarwa tumuwuh. Moral manusia akan ambruk apabila manusia dilanda kemiskinan baik miskin moral maupun miskin material. Hari raya Pagerwesi adalah hari untuk mengingatkan kita untuk berlindung dan berbakti kepada Tuhan sebagai guru sejati. Berlindung dan berbakti adalah salah satu ciri manusia bermoral tanpa kesombongan.

Mengembangkan pertanian dan peternakan bertujuan untuk memagari manusia dari kemiskinan material. Karena itu tepatlah bila hari raya Pagerwesi dipandang sebagai hari untuk memerangi diri dengan kekuatan meterial. Kalau kedua hal itu (pertanian dan peternakan) kuat, maka adharma tidak dapat masuk menguasai manusia. Yang menarik untuk dipahami adalah Pagerwesi adalah hari raya yang lebih diperuntukkan para pendeta (sang purohita). Hal ini dapat dipahami, karena untuk menjangkau vibrasi yoga Sanghyang Pramesti Guru tidaklah mudah. Hanya orang tertentu yang dapat menjangkau vibrasi Sanghyang Pramesti Guru. Karena itu ditekankan pada pendeta dan beliaulah yang akan melanjutkan pada masyarakat umum. Dalam agama Hindu, purohita adalah adi guru loka yaitu guru utama dari masyarakat. Sang Purohita-lah yang lebih mampu menggerakkan atma dengan tapa brata.

Dalam Manawa Dharmasastra V, 109 disebutkan:

Atma dibersihkan dengan tapa bratabudhi dibersihkan dengan ilmu pengetahuan (widia) manah (pikiran) dibersihkan dengan kebenaran dan kejujuran yang disebut satya.

Penjelasan Manawa Dharmasastra ini adalah bahwa atma yang tidak diselimuti oleh awan kegelapan dari hawa nafsu akan dapat menerima vibrasi spiritual dari Brahman. Vibrasi spiritual itulah sebagai pagar besi dari kehidupan dan itu pulalah guru sejati. Karena itu amat ditekankan pada Hari Raya Pagerwesi para pendeta agar ngarga, mapasang lingga.

Ngarga adalah suatu tempat untuk membuat tirtha bagi para pendeta. Sebelum membuat tirtha, terlebih dahulu pendeta menyucikan arga dengan air, dengan pengasepan sampai disucikan dengan mantra-mantra tertentu sehingga tirtha yang dihasilkan betul-betul amat suci. Pembuatan tirtha dalam upacara-upacara besar dilakukan dengan mapulang lingga. Tirtha suci itulah yang akan dibagikan kepada umat. Mengingat ngargha mapasang lingga dianjurkan oleh lontar Sundarigama pada hari Pagerwesi ini, berarti para pendeta harus melakukan hal yang amat utama untuk mencapai vibrasi spiritual payogan Sanghyang Pramesti Guru.

Sesayut Panca Lingga dengan inti ketipat Lingga adalah memohon lima manifestasi Siwa untuk memberikan benteng kekuatan (pager besi) dalam menghadapi hidup ini. Para pendetalah yang mempunyai kewajiban menghadirkan lebih intensif dalam masyarakat. Kemahakuasaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Siwa dengan simbol Panca Lingga, Sesayut Pageh Urip bagi kebanyakan atau umat yang masih walaka. Kata "pageh" artinya "pagar" atau "teguh" sedangkan "urip" artinya "hidup". "Pageh urip" artinya hidup yang teguh atau hidup yang terlindungi. Kata "sesayut" berasal dari bahasa Jawa dari kata "ayu" artinya selamat atau sejahtera.

Natab Sesayut artinya mohon keselamatan atau kerahayuan. Banten Sesayut memakai alas sesayut yang bentuknya bundar dan maiseh dari daun kelapa. Bentuk ini melambangkan bahwa untuk mendapatkan keselamatan haruslah secara bertahap dan beren-cana. Tidak bisa suatu kebaikan itu diwujudkan dengan cara yang ambisius. Demikianlah sepintas filosofi yang terkandung dalam lambang upacara Pagerwesi.

Di India, umat Hindu memiliki hari raya yang disebut Guru Purnima dan hari raya Walmiki Jayanti. Upacara Guru Purnima pada intinya adalah hari raya untuk memuja Resi Vyasa berkat jasa beliau mengumpulkan dan mengkodifikasi kitab suci Weda. Resi Vyasa pula yang menyusun Itihasa Mahabharatha dan Purana. Putra Bhagawan Parasara itu pula yang mendapatkan wahyu ten-tang Catur Purusartha yaitu empat tujuan hidup yang kemudian diuraikan dalam kitab Brahma Purana.

Berkat jasa-jasa Resi Vyasa itulah umat Hindu setiap tahun merayakan Guru Purnima dengan mengadakan persembahyangan atau istilah di India melakukan puja untuk keagungan Resi Vyasa dengan mementaskan berbagai episode tentang Resi Vyasa. Resi Vyasa diyakini sebagai adi guru loka yaitu gurunya alam semesta.

Sedangkan Walmiki Jayanti dirayakan setiap bulan Oktober pada hari Purnama. Walmiki Jayanti adalah hari raya untuk memuja Resi Walmiki yang amat berjasa menyusun Ramayana sebanyak 24.000 sloka. Ke-24. 000 sloka Ramayana itu dikembangkan dari Tri Pada Mantra yaitu bagian inti dari Savitri Mantra yang lebih populer dengan Gayatri Mantra. Ke-24 suku kata suci dari Tri Pada Mantra itulah yang berhasil dikembangkan menjadi 24.000 sloka oleh Resi Walmiki berkat kesuciannya. Sama dengan Resi Vyasa, Resi Walmiki pun dipuja sebagai adi guru loka yaitu maha gurunya alam semesta.

Sampai saat ini Mahabharata dan Ramayana yang disebut itihasa adalah merupakan pagar besi dari manusia untuk melindungi dirinya dari serangan hawa nafsu jahat.

Jika kita boleh mengambil kesimpulan, kiranya Hari Raya Pagerwesi di Indonesia dengan Hari Raya Guru Purnima dan Walmiki Jayanti memiliki semangat yang searah untuk memuja Tuhan dan resi sebagai guru yang menuntun manusia menuju hidup yang kuat dan suci. Nilai hakiki dari perayaan Guru Purnima dan Walmiki Jayanti dengan Pegerwesi dapat dipadukan. Namun bagaimana cara perayaannya, tentu lebih tepat disesuaikan dengan budaya atau tradisi masing-masing tempat. Yang penting adalah adanya pemadatan nilai atau penambahan makna dari memuja Sanghyang Pramesti Guru ditambah dengan memperdalam pemahaman akan jasa-jasa para resi, seperti Resi Vyasa, Resi Walmiki dan resi-resi yang sangat berjasa bagi umat Hindu di Indonesia.


Dari berbagai sumber.

Jumat, 28 Mei 2010

BEBERAPA OBYEK WISATA DI KAB. BANGLI PROV. BALI

Berikut ini adalah beberapa obyek wisata yang ada di Kabupaten Bangli Provinsi Bali, yang indah nan elok....

BUKIT JATI


Tempat ini berbukit-bukit merupakan tempat yang ideal untuk trecking, hiking. Dari puncak bukit, pengunjung dapat melihat hamparan padi yang indah di lereng bukit.











TAMAN BALI

Ini adalah tempat di mana raja-raja akan beristirahat pada waktu-waktu tertentu. Tamanbali Raja meliputi area seluas 5.000 m2, dikelilingi sawah tempat petani masih menerapkan pertanian metode lama. Tamanbali dibangun oleh Raja Kerajaan Tamanbali Bagus Anom. Ini adalah candi yang dikelilingi oleh kolam dan taman bunga dan tanaman tropis yang berwarna-warni.






DESA TRADISIONAL PENGLIPURAN



Desa ini memiliki udara sejuk karena tempatnya sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Dari sudut pandang sebuah hostorical oleh para tetua desa, berkata, "Penglipuran" berasal dari kata "Pengeling Pura" berarti suatu tempat yang suci untuk mengingat Sang Pencipta.

Desa ini dapat dicapai dengan jalan yang menghubungkan Kabupaten Bangli dan Kintamani. Jika tamu menelusuri jalan ke Kubu, sekitar 5 km dari kota Bangli dan kemudian kembali, mereka akan tiba di Penglipuran dan akan disambut hangat oleh warga desa.

Ini berarti begitu banyak karena ini pendiri Desa Penglipuran dari desa Bayung Gede Kintamani, yang tampaknya jauh. Oleh karena itu, masyarakat Penglipuran mendirikan sebuah candi yang mirip dengan yang ada di desa Bayung Gede. Ini berarti penduduk tetap Penglipuran dapat memiliki pengetahuan tentang asal-usul mereka.

Desa Penglipuran memiliki kurang dari seribu orang, sebagian besar mengandalkan pertanian sebagai sumber penghasilan, hanya sedikit pekerjaan mereka sebagai pegawai negeri sipil. Tari dan kerajinan yang berkembang baik di daerah pedesaan terpencil.

Pendapat lain mengatakan bahwa "Penglipuran" berasal dari kata "Penglipur" yang berarti "menghibur" pada zaman feodalisme, tempat ini digunakan oleh keluarga kerajaan sebagai tempat untuk beristirahat.

Desa Penglipuran adalah sebuah desa yang mampu mempertahankan rumah tradisional meskipun zama telah modern, dan itu membuatnya berbeda dibandingkan dengan desa-desa lain.


Bersambung........ babai

Sumber: http://www.banglikab.go.id/
Diterjemahkan dengan kamus online Indonesia English http://vvv.sederet.com/translate.php